Kamis, 29 Oktober 2015

Semoga Langit Malam Menunda Pagi

Dalam sekejap terurai raut muka bahkan sampai kepandangan mata
Sungguh jauh saat di tatap, tetapi dekat saat di rasa
Ya, mungkin hanya diri yang tak tahu diri ini yang hanya merasa
Seakan malam beserta kawanannya bak pengantar ucapan yang bisu

Aku membisu di perapian ku
Tanpa bersuara dan mengucap untuk menjelaskan
Tanpa apa pun itu.. Aku hanya bisa melakukan
Melakukan untuk menjelaskan. Menjelaskan hal penting. Hal penting bagiku !

Memang benar malam peneman tanpa syarat
Pelaku dalam setiap tulisan tentang padang rumput yang hanya menerima satu bunga
Semoga bunga, semoga bersedia, semoga tinggal dan semoga mekar

Berdoa. Semoga doa menemani untuk terlelap
Menyelimuti setiap jengkal tubuhnya
Menjadi sayap mengantarkannya terbang
Beriringan masuk ke dalam ladang mimpinya
Menjaga senyum dalam kehidupannya
Sehingga semoga langit malam menunda kehadiran pagi
Tunda lah agar aku tetap menulis tentang semua perumpamaan yang nyata, perjumpaan tanpa akhir dan langkah awal malam untuk membersamakan doa-doa ku... Kita.


     Oktober 2015                  
                                     -affrizal andifahmi-